kenapa aku di bedakan?

hai, perkenalkan. namaku sabrina febyca fimelya. saat ini aku berusia 20 tahun. aku merupakan pengidap anxiety disorder dan bipolar. sejak kecil aku hidup dalam tekanan keluarga. suara keras, bentakan, hingga pukulan sudah menjadi bagian dari keseharianku. sejak usia 8 tahun, aku sudah diperkenalkan dengan cara mencari uang, dan setiap kesalahan—besar ataupun kecil—selalu dibalas dengan tamparan sebagai konsekuensinya. di rumah, aku adalah anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara, sekaligus anak terakhir. cacian dan makian dari orang tua maupun saudara adalah makanan sehari-hari bagiku. saat memasuki masa remaja dan duduk di bangku SMP, aku juga mengalami perundungan dari teman sekelas. hinaan yang sangat menyakitkan itu membuatku semakin terpuruk. aku selalu memendam semuanya sendiri, meratapi apa yang terjadi sambil lirih bertanya pada diri sendiri: “ada apa denganku? apa yang salah dariku? apa aku se-tidak layak itu?” aku melewati tiga tahun masa kelam yang membuat mentalku semakin berantakan. sejak saat itu, aku terbiasa menyalahkan diri sendiri dan sering menyakiti diriku sendiri. aku benar-benar sendirian. aku tidak memiliki ruang untuk bercerita. bagi keluargaku, keberadaanku seolah tidak ada apa-apanya dibandingkan saudara laki-lakiku. setiap ada kumpul keluarga, aku jarang diajak duduk bersama. aku harus menyiapkan makanan untuk mereka. aku selalu berharap ada keajaiban—di mana aku diperlakukan selayaknya anak perempuan yang disayangi, seperti yang lain. aku sering menangis saat melihat teman-temanku berjalan bersama orang tua mereka, berbelanja, dimanjakan, dan diperlakukan seperti putri kesayangan. karena aku hampir tidak pernah memiliki momen seindah itu. meskipun begitu, aku selalu memohon kepada orang tuaku agar tidak memakiku di depan teman-temanku, karena aku tidak ingin semua orang tahu dan menilai keluargaku sebagai keluarga yang buruk. namun pernah suatu saat, ayahku meludahiku di depan banyak orang, hanya karena aku melarangnya mengangkat kursi saat ia sedang sakit. ia mengatakan aku terlalu mengaturnya. hingga tahun ini pun, aku masih sering menerima pukulan, hinaan, dan sumpah serapah yang terus melukaiku. aku tidak pernah menyesal terlahir dalam takdir ini. aku hanya masih menyimpan harapan sejak kecil—untuk menjadi putri kecil ayah, mama, dan saudara laki-lakiku, bukan menjadi bahan pukulan mereka. hehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayanganmu Di Setiap Langkah

Untitled, but it's About You

Heartbeat in Stereo