Postingan

kenapa aku di bedakan?

hai, perkenalkan. namaku sabrina febyca fimelya. saat ini aku berusia 20 tahun. aku merupakan pengidap anxiety disorder dan bipolar. sejak kecil aku hidup dalam tekanan keluarga. suara keras, bentakan, hingga pukulan sudah menjadi bagian dari keseharianku. sejak usia 8 tahun, aku sudah diperkenalkan dengan cara mencari uang, dan setiap kesalahan—besar ataupun kecil—selalu dibalas dengan tamparan sebagai konsekuensinya. di rumah, aku adalah anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara, sekaligus anak terakhir. cacian dan makian dari orang tua maupun saudara adalah makanan sehari-hari bagiku. saat memasuki masa remaja dan duduk di bangku SMP, aku juga mengalami perundungan dari teman sekelas. hinaan yang sangat menyakitkan itu membuatku semakin terpuruk. aku selalu memendam semuanya sendiri, meratapi apa yang terjadi sambil lirih bertanya pada diri sendiri: “ada apa denganku? apa yang salah dariku? apa aku se-tidak layak itu?” aku melewati tiga tahun masa kelam yang membuat mentalku...

Heartbeat in Stereo

Malam itu, dalam kesunyian, perasaan kacau dan harapan hampa menyelimutiku. Sebuah foto menarik perhatian; bukan pemandangan indah atau karya seni rumit, melainkan foto seseorang yang tak kukenal, seorang lelaki yang tersenyum ramah di atas sepeda motor biru—warna kesukaanku. Sebuah pesan singkatnya menyapaku malam itu, dan tanpa diduga, percakapan kami mengalir. Dia pria yang hangat, menenangkan jiwaku yang terluka. Perlahan, kami berbagi cerita tentang hidup, mimpi, dan rasa takut. Aku merasa nyaman, dipahami, dan didengarkan. Dia pun menceritakan ketakutannya akan masa depan, kegagalan-kegagalan kecilnya, dan mimpinya. Pertemuan tak terduga itu berbuah ikatan yang tulus dan mendalam. Aku merasa menemukan tempatku, rumahku. Rumahku bukan tempat, melainkan seseorang. Seseorang yang penampilannya yang rapi mencerminkan kepribadiannya yang tenang dan tertib, seseorang yang selalu ada, tanpa pamrih, tanpa syarat. Seseorang yang membuatku merasa cukup, utuh, dan bahagia. ...

Untitled, but it's About You

It started with late-night texts and endless playlists. She was a mess, a beautiful, chaotic mess, constantly battling insecurities that felt as big as the universe. He was… different. He didn't try to fix her, he just saw her. The anxieties, the breakdowns, the quiet moments of self-doubt – he saw it all, and he loved her anyway. Their relationship wasn't a fairytale; it was real. Awkward silences filled with unspoken understanding, inside jokes that only they got, and those late-night drives where words weren't necessary. He was her safe space, her anchor in the storm of her own mind. He wasn't a solution to her problems, but he was the constant she desperately needed. He helped her find her own strength, her own voice, her own light. He didn't just love her; he showed her how to love herself. It wasn't perfect, but it was them. And that, in itself, was everything. The story isn't about grand gestures, but the quiet moments, the small acts of ...

Bayanganmu Di Setiap Langkah

Sudah seminggu kita tak saling bicara, sayang. Seminggu yang terasa seperti satu abad. Aku telah menghabiskan waktu ini untuk merenung, untuk mencoba memahami apa yang terjadi, untuk mencoba melupakanmu. Tapi aku tak bisa, sayang. Aku tak bisa melupakanmu. Setiap sudut ruangan ini, setiap benda yang kulihat, setiap aroma yang kutercium, selalu mengingatkan aku pada dirimu. Setiap lagu yang kudengar, setiap film yang kutonton, selalu membuatku teringat pada momen-momen indah yang pernah kita lalui bersama. Aku mencoba untuk melupakanmu, sayang. Aku mencoba untuk menyibukkan diri dengan hobi yang kucintai, dengan teman-teman yang setia, dengan mimpi-mimpi yang kuberikan sayap. Namun, semua itu tak mampu mengusir bayangmu dari relung hatiku. Setiap kali aku mencoba untuk melupakanmu, setiap kali aku mencoba untuk move on, sebuah bisikan lembut selalu terdengar di telingaku: "Akan indah jika bersamamu." Aku tahu, sayang, kamu mungkin tak akan pernah membaca ini, mungk...

Namamu Akan Tetap Abadi Meski Kau Tak Lagi Bersamaku

Moh. Hanif Muqorrobin, namamu seperti melodi yang terukir di hatiku. Kau bagaikan bintang yang bersinar terang, dengan tubuh tegap yang menjulang tinggi, kulit putih bersih yang lembut seperti sutra, dan wajah tampan yang dihiasi senyum manis. Matamu, yang sayu dan penuh makna, seolah menyimpan sejuta cerita. Gigimu yang sedikit gingsul, menambah pesonamu yang tak terbantahkan. Aroma tubuhmu, wangi parfum yang lembut dan menenangkan, selalu tertinggal di setiap tempat yang kau singgahi. Kau adalah lelaki yang kuat, Robin. Kau bagaikan benteng yang kokoh, selalu melindungi dan menentramkan. Kau tak pernah mengeluh, selalu sabar menghadapi badai yang datang menerjang. Kau selalu ada di sampingku, memberikan kekuatan dan semangat. Namun, di balik semua itu, tersimpan sebuah luka yang tak terobati. Sebuah kisah cinta yang terputus, yang meninggalkan bekas yang mendalam di hatiku. "Hai Robin, bagaimana kabarmu? Rasanya sudah lama sekali kita tak berjumpa," tulisku...