Namamu Akan Tetap Abadi Meski Kau Tak Lagi Bersamaku
Moh. Hanif Muqorrobin, namamu seperti melodi yang terukir di hatiku. Kau bagaikan bintang yang bersinar terang, dengan tubuh tegap yang menjulang tinggi, kulit putih bersih yang lembut seperti sutra, dan wajah tampan yang dihiasi senyum manis. Matamu, yang sayu dan penuh makna, seolah menyimpan sejuta cerita. Gigimu yang sedikit gingsul, menambah pesonamu yang tak terbantahkan. Aroma tubuhmu, wangi parfum yang lembut dan menenangkan, selalu tertinggal di setiap tempat yang kau singgahi.
Kau adalah lelaki yang kuat, Robin. Kau bagaikan benteng yang kokoh, selalu melindungi dan menentramkan. Kau tak pernah mengeluh, selalu sabar menghadapi badai yang datang menerjang. Kau selalu ada di sampingku, memberikan kekuatan dan semangat.
Namun, di balik semua itu, tersimpan sebuah luka yang tak terobati. Sebuah kisah cinta yang terputus, yang meninggalkan bekas yang mendalam di hatiku.
"Hai Robin, bagaimana kabarmu? Rasanya sudah lama sekali kita tak berjumpa," tulisku di pesan WhatsApp-mu, menatap layar ponsel dengan tatapan kosong.
Kau masih ingat aku, Robin? Sabrina, gadis yang pernah mengisi hatimu dengan cinta. Aku tak tahu bagaimana kabarmu, apakah kau bahagia? Apakah kau telah menemukan penggantiku?
"Kamu sudah merayakan cinta baru? Apakah sudah ada penggantiku di hatimu? Jika ya, selamat!" tulisku lagi, jari-jariku gemetar saat mengetik kalimat itu.
Aku teringat saat-saat indah yang pernah kita lalui bersama. Kau selalu sabar, selalu berusaha untuk membuatku bahagia.
"Maaf jika dulu bersamaku kamu tidak bahagia. Kamu harus menuruti semua keinginanku, maaf jika aku terkesan mengaturmu," tulisku, air mataku menetes di layar ponsel.
Aku tahu, aku telah membuat banyak kesalahan. Aku terlalu posesif, terlalu ingin mengendalikan. Aku lupa bahwa cinta membutuhkan kebebasan, bukan belenggu.
"Tapi di balik itu semua, aku sangat sayang padamu hingga saat ini," tulisku, suaraku bergetar.
Aku masih mencintaimu, Robin. Aku masih menunggumu, berharap suatu hari kau akan kembali padaku.
"Sampai saat ini, aku belum bisa menerima orang lain, Bin. Aku selalu menunggumu pulang, aku selalu menunggu notifikasi dari kamu," tulisku, hatiku
berdesir saat membayangkan kau kembali padaku.
Namun, aku tahu, harapan itu hanya fatamorgana. Kau telah pergi, dan tak akan pernah kembali.
"Maaf jika aku menghubungimu saat ini, sementara kamu mungkin sudah merayakan cinta baru. Semoga wanita yang bersamamu saat ini bisa membuatmu bahagia, ya. Dia sangat beruntung," tulisku, jari-jariku lemas, tak mampu mengetik lagi.
Aku menutup ponselku, air mataku mengalir deras. Aku terduduk di kursi, menatap langit malam yang gelap.
"Kamu kekal dan abadi di hatiku, Robin," bisikku, suaraku bercampur dengan isak tangis.
Robin, namamu terukir di hatiku, tak akan pernah terhapus.
Aku bangkit, mataku menatap lurus ke depan. Aku harus bangkit, harus melupakan masa lalu, dan melangkah maju.
"Aku akan terus hidup, Robin. Aku akan terus mencintai, meski kamu tak lagi di sisiku," ucapku, hatimu pilu namun tegar.
Aku berjalan menuju jendela, menatap langit malam yang bertabur bintang.
"Kamu akan selalu kekal abadi di dalam hatiku, Robin. Di setiap detak jantungku, di setiap langkahku, kamu akan selalu ada," bisikku, senyum tipis terukir di wajahku.
Robin, lelaki yang kuat, yang tegar, yang selalu mencintai. Kau akan terus hidup, meski luka di hatiku tak akan pernah benar-benar sembuh.
Robin, kau akan selalu kekal abadi di dalam hatiku.
-Sabrina
Komentar
Posting Komentar